Senin, 13 Mei 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

keuntungan dan kerugian sediaan injeksi



Keuntungan Sediaan Injeksi
  1. Dapat dicapai efek fisiologis segera, untuk kondisi penyakit tertentu (jantung berhenti)
  2. Dapat diberikan untuk sediaan yang tidak efektif diberikan secara oral atau obat yang dirusak oleh sekresi asam lambung
  3. Baik untuk penderita yang tidak memungkinkan mengkonsumsi oral (sakit jiwa atau tidak sadar)
  4. Pemberian parenteral memberikan kemungkinan bagi dokter untuk mengontrol obat, karena pasien harus kembali melakukan pengobatan
  5. Sediaan parenteral dapat menimbulkan efek lokal seperti pada kedokteran gigi/anastesiologi
  6. Pengobatan parenteral merupakan salah satu cara untuk mengoreksi gangguan serius cairan dan keseimbangan elektrolit
Kerugian Sediaan Injeksi
  1. Pemberian sediaan parenteral harus dilakukan oleh personel yang terlatih dan membutuhkan waktu pemberian yang lebih lama
  2. Pemberian obat secara parenteral sangat berkaitan dengan ketentuan prosedur aseptik dengan rasa nyeri pada lokasi penyuntikan yang tidak selalu dapat dihindari
  3. Bila obat telah diberikan secara parenteral, sukar sekali untuk menghilangkan/merubah efek fisiologisnya karena obat telah berada dalam sirkulasi sistemik
  4. Harganya relatif lebih mahal, karena persyaratan manufaktur dan pengemasan
  5. Masalah lain dapat timbul pada pemberian obat secara parenteral seperti septisema, infeksi jamur, inkompatibilias karena pencampuran sediaan parenteral dan interaksi obat
  6. Persyaratan sediaan parenteral tentang sterilitas, bebas dari partikulat, bebas dari pirogen, dan stabilitas sediaan parenteral harus disadari oleh semua personel yang terlibat.

Selasa, 19 Maret 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

tata cara menetaskan telur bebek


buat para pemuda indonesia, mari berwiraswasta !!!!!!!!!!!!!!!
Cara Menetaskan Telur Bebek itu yang akan penulis uraikan disini, sebelumnya di telah di postkan juga Cara Menetaskan Telur Puyuh. Tidak jauh berbeda cara dan metode yang akan kita lakukan dalam menetaskan telur puyuh maupun Telur Bebek, untuk mengetahui cara menetaskan nya tak kanberlama-lama langsung saja kita simak.

Yang pertama kita perhatikan adalah Pemilihan Telur Bebek yang akan kita tetaskan, untuk memperoleh Telur Bebek yang baik
disarankan untuk memiliki Indukannya sendi, jadi kita dapat memastikan bahwa Telur yang akan kita tetaskan berkualitas baik. dibandingkan kita membelinya di pasar akan membuat kita kesulitan dalam memilih Telur yang Baik.

Calon Indukan yang baik memiliki ciri sebagai berikut :
1.     Bebek yang siap bertelur berumur 4-5 bulan.
2.     Jenis Bebek Rambon lebih disarankakn karna dapat di Ternakan dimana saja, baik dengan digembalakan, maupun dikandang.
Untuk Telur yang Baik Memiliki Ciri :
1.     Jangan menetaskan telur bebek yang berwarna terlalu putih atau terlalu biru (Jika telur bebek terlalu putih biasanya DOD nya kecil, jika telurnya terlalu biru biasanya susah pecah dan jika berhasil biasanya bebeknya lumpuh)
2.     Telur bebek yang ditetaskan jangan berumur lebih dari 4 hari. Telur bebek yang berumur lebih dari 4 hari biasanya kualitasnya sudah kurang bagus
3.     Telur dalam kondisi bersih.
4.     Kulitnya halus.
5.     Tebal kulitnya rata, agar saat menetas dapat serentak.
Setelah Telur Bebek yang akan di tetaskan sudah ada dan siap, kita akan mempersiapkan untuk menuju proses penetasan. Proses penetasan dapat kita lakukan dengan menggunakan Mesin Penetas Telur yang terbuat dari kayu, dimana Alat ini harus dapat menjaga suhu di dalamnya dan menjaga kelembaban-nya. untuk cara membuat Box Mesin Penetas Telur dapat dilihat disini.

Untuk apa saja yang harus dilakukan selama Telur Beber berada di dalam Mesin Penetas dapat kita simak Sebagai Berikut :
1.     Atur suhu dan kondisikan agar terjaga stabil.                                                                              Untuk umur telur 1 – 24 hari 38oC  ( 99oF – 101oF )
Untuk umur telur 25 – 28 hari sebaiknya  di turunkan 1 s/d 2oF
2.     Mengatur kelembapan ,  yang baik dalam mesin tetas dari hari ke 1 sampai hari ke 25 yaitu antara 55% – 65% setelah hari ke 25 kelembapan sebaiknya dinaikan menjadi 75%. Pada  mesin tetas sederhana untuk mengatur kelembapan dengan cara menaruh bak / baki yang diisi air di bawah rak telur dan untuk menambah kelembapan dengan menyemrot telur dengan air secukupnya setelah itu diangin anginkan,  dilakukan setiap beberapa kali ( 2 – 3 kali ) dalam satu hari  pada saat pembalikan telur.
3.     Candling (memeriksa perkembangan telur  dengan cara meneropong telur  menggunakan cahaya lampu). 
Pemeriksaan Pertama : Pada hari ke 4                                                                               Pemeriksaan Kedua    : Pada hari ke 10
Pemeriksaan Ketiga   :  Pada hari ke 20,                                                                                        Telur yang kosong atau mati harus segera di singkirkan.
4.      Menjaga Posisi telur  dan pembalikannya secara teratur, disarankan pada jam yang sama dan jangan terlalu lama membuka Box Mesin Penetas karna suhu didalamnya akan turun dan berefek kegagalan.
Lebih Jelasnya Seperti Prosedur Dibawah ini :
-         Pada Mesin tetas sederhana biasanya sebagian penetas ada yang menempatkan telur dengan posisi tergeletak ( tiduran ) dan ada juga penetas yang menempatkan telur dalam mesin dengan posisi berdiri miring 45 derajat dengan bagian tumpul diatas.telur dan ditempatkan pada rak yang sama dari proses awal sampai akhir penetasan.
-       Pada hari ke 2 s/d hari ke 25 pembalikan telur dilakukan 3 kali sehari., telur juga perlu di angin anginkan selama 5 – 10 menit, waktu pelaksaan pembalikan telur ini dapat bersamaan dengan pembasahan ( telur disemprot air secukupnya ) biarkan pintu mesin tetas terbuka sebentar untuk mengangin -  anginkan telur.
-       Setelah hari ke 25 atau pada tiga hari terakhir menjelang penetasan sebaiknya telur tidak perlu di balik / di putar. kelembapan perlu dinaikan sedikit untuk membantu proses retaknya cangkang (pipping ).
Semoga artikel ini dapat bermanfat dan akan membatu pembaca dalam memulai Berternak Bebek

Sabtu, 15 Desember 2012

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

makalah leukosit



SEL DARAH PUTIH LEUKOSIT

Makalah Untuk Memenuhi Tugas Anatomi Fisiologi
Disusun oleh




RIKI ABDULLAH


STIKES KHARISMA KARAWANG






DAFTAR ISI


 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

            Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transportasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya sistem transportasi dengan darah.
Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian.
Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertigabelas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter. Jenis sel darah manusia terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan trombosit (keping darah)
Sel darah putih (leukosit) merupakan unit yang aktif dari system pertahanan tubuh. Leukosit berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis leukosit, yaitu netrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit. Pada orang dewasa terdapat kira-kira 7000 sel darah putih per millimeter kubik.
            Peran sel darah putih (leukosit) yang begitu penting, sehingga seorang manusia perlu dilakukan pengecekan kadar sel darah putih (leukosit). Oleh karena itu dilakukannya praktikum patologi klinis ini dimana dilakukan pula praktikum  perhitungan  kadar leukosit dalam tubuh manusia.

B.  Tujuan

            Dilakukan praktikum patologi klinis dalam bab leukosit bertujuan untuk mengetahui tehnik menghitung kadar sel darah putih (leukosit) , mengetahui adanya kelainan yang terjadi pada tubuh yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sel darah putih (leukosit), dan membandingkan kadar sel darah putih (leukosit) tubuh dengan kadar sel darah putih (leukosit) normal.
















BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori

            Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia.
Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya.
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu :
1.      Granulosit, yaitu leukosit yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler yaitu neutrofil, basofil,dan asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa dan asam.
2.      Agranulosit Yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler yaitu limfosit (sel kecil, sitoplasma sedikit) dan monosit (sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak).
NETROFIL
Di antara granulosit, netrofil merupakan merupakan jenis sel yang terbanyak yaitu sebanyak 60 – 70% dari jumlah seluruh leukosit atau 3000-6000 per mm3 darah normal.
Pada perkembangan sel netrofil dalam sumsum tulang, terjadi perubahan bentuk intinya, sehingga dalam darah perifer selalu terdapat bentuk-bentuk yang masih dalam perkembangan. Dalam keadaan normal perbandingan tahap-tahap mempunyai harga tertentu sehingga perubahan perbandingan tersebut dapat mencerminkan kelainan. Sel netrofil matang berbentuk bulat dengan diameter 10-12 μm. Intinya berbentuk tidak bulat melainkan berlobus berjumlah 2-5 lobi bahkan dapat lebih. Makin muda jumlah lobi akan berkurang. Yang dimaksudkan dengan lobus yaitu bahan inti yang terpisah-pisah oleh bahan inti berbentuk benang. Inti terisi penuh oleh butir-butir khromatin padat sehingga sangat mengikat zat warna basa menjadi biru atau ungu. Oleh karena padatnya inti, maka sukar untuk untuk memastikan adanya nukleolus.
Dalam netrofil terdapat adanya bangunan pemukul genderang pada inti netrofil yang tidak lain sesuai dengan Barr Bodies yang terdapat pada inti sel wanita. Barr Bodies dalam inti netrofil tidak seperti sel biasa melainkan menyendiri sebagai benjolan kecil. Hal ini dapat digunakan untuk menentukan apakah jenis kelamin seseorang wanita.
Dalam sitoplasma terdapat 2 jenis butir-butir ata granul yang berbeda dalam penampilannya dengan ukuran antara (0.3-0.8μm). Granul pada neutrofil tersebut yaitu :
·         Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase, dimana sudah mulai tampak sejak masih dalam sumsum tulang yang makin dewasa makin berkurang jumlahnya. Ukurannya lebih besar dari pada jenis butir yang kedua dan kebanyakan telah kehilangan kemampuan mengikat warna. Dengan pewarnaan Romanovsky butiran ini tampak ungu kemerah-merahan.
·         Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin. Dinamakan butir spesifik karena hanya terdapat pada sel netrofil dengan ukran lebih halus. Butiran ini baru tampak dalam tahap mielosit, berwarna ungu merah muda dan pada sel dewasa akan tampak lebih banyak daripada butir azurofil.
Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler, sedikit mitokonria, apparatus Golgi rudimenter dan sedikit granula glikogen. Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, memfagosit partikel kecil dengan aktif. Dengan adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam pengenceran dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekul tirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya.
Dibawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus membran granula-granula neutrofil pecah, mengakibatkan proses pembengkakan diikuti oleh aglutulasi organel - organel dan destruksi neutrofil. Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu melakukan glikolisis baik secara aerob maupun anaerob. Kemampuan nautrofil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan nekrotik
EOSINOFIL
Jumlah sel eosinofil sebesar 1-3% dari seluruh lekosit atau 150-450 buah per mm3 darah. Ukurannya berdiameter 10-15 μm, sedikit lebih besar dari netrofil. Intinya biasanya hanya terdiri atas 2 lobi yang dipisahkan oleh bahan inti yang sebagai benang. Butir-butir khromatinnya tidak begitu padat kalau dibandingkan dengan inti netrofil.
Eosinofil berkaitan erat dengan peristiwa alergi, karena sel-sel ini ditemukan dalam jaringan yaang mengalami reaksi alergi. Eosinofil mempunyai kemampuan melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih selektif dibanding neutrofil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan antibodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses patologi.
BASOFIL
Jenis sel ini terdapat paling sedikit diantara sel granulosit yaitu sekitar 0.5%, sehingga sangat sulit diketemukan pada sediaan apus. Ukurannya sekitar 10-12 μm sama besar dengan netrofil. Kurang lebih separuh dari sel dipenuhi oleh inti yang bersegmen-segmen ata kadang-kadang tidak teratur. Inti satu, besar bentuk pilihan irreguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali granul menutupi inti, sehingga tidak mudah untuk mempelajari intinya.
Granul spesifik bentuknya ireguler berwarna biru tua dan kasar tampak memenuhi sitoplasma. Granula basofil mensekresi histamin yang berperan dalam dalam proses alergi basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil.
LIMFOSIT
Limfosit dalam darah berukuran sangat bervariasi sehingga pada pengamatan sediaan apus darah dibedakan menjadi limfosit kecil (7-8 μm), limfosit sedang dan limfosit besar (12 μm).
Jumlah limfosit menduduki nomer dua setelah netrofil yaitu sekitar 1000-3000 per mm3 darah atau 20-30% dari seluruh leukosit. Di antara tiga jenis limfosit, limfosit kecil terdapat paling banyak. Limfosit kecil ini mempunyai inti bulat yang kadang-kadang bertakik sedikit. Intinya gelap karena khromatinnya berkelompok dan tidak nampak nukleolus. Sitoplasmanya yang sedikit tampak mengelilingi inti sebagai cincin berwarna biru muda. Kadang-kadang sitoplasmanya tidak jelas mungkin karena butir-butir azurofil yang berwarna ungu. Limfosit kecil kira-kira berjumlah 92% dari seluruh limfosit dalam darah.
Limfosit mempunyai kedudukan yang penting dalam sistem imunitas tubuh, sehingga sel-sel tersebut tidak saja terdapat dalam darah, melainkan dalam jaringan khusus yang dinamakan jaringan limfoid. Berbeda dengan sel-sel leukosit yang lain, limfosit setelah dilepaskan dari sumsum tulang belum dapat berfungsi secara penuh oleh karena hars mengalami differensiasi lebih lanjut. Apabila sudah masak sehingga mampu berperan dalam respon immunologik, maka sel-sel tersebut dinamakan sebagai sel imunokompeten. Sel limfosit imunokompeten dibedakan menjadi limfosit B dan limfosit T, walaupun dalam sediaan apus kita tidak dapat membedakannya. Limfosit T sebelumnya mengalami diferensiasi di dalam kelenjar thymus, sedangkan limfosit B dalam jaringan yang dinamakan Bursa ekivalen yang diduga keras jaringan sumsum tulang sendiri. Kedua jenis limfosit ini berbeda dalam fungsi immunologiknya.
Sel-sel limfosit T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Sel limfosit B bertugas untuk memproduksi antibodi humoral antibodi response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibodi, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.
MONOSIT
Jenis sel agranulosit ini berjumlah sekitar 3-8% dari seluruh leukosit. Sel ini merupakan sel yang terbesar diantara sel leukosit karena diameternya sekitar 12-15 μm. Bentuk inti dapat berbentuk oval, sebagai tapal kuda atau tampak seakan-akan terlipat-lipat. Butir-butir khromatinnya lebih halus dan tersebar rata dari pada butir khromatin limfosit.
Sitoplasma monosit terdapat relatif lebih banyak tampak berwarna biru abu-abu. Berbeda dengan limfosit, sitoplasma monosit mengandung butir-butir yang mengandung perioksidase seperti yang diketemukan dalam netrofil.
Monosit mampu mengadakan gerakan dengan jalan membentuk pseudopodia sehingga dapat bermigrasi menembus kapiler untuk masuk ke dalam jaringan pengikat. Dalam jaringan pengikat monosit berbah menjadi sel makrofag atau sel-sel lain yang diklasifikasikan sebagai sel fagositik.
Didalam jaringan mereka masih mempunyai membelah diri. Selain berfungsi fagositosis makrofag dapat berperan menyampaikan antigen kepada limfosit untuk bekerja sama dalam sistem imun.

B. Jenis

Ada beberapa jenis sel darah putih yang disebut granulosit atau sel polimorfonuklear yaitu
dan dua jenis yang lain tanpa granula dalam sitoplasma:



Gambar
Diagram
% dalam tubuh manusia
Keterangan
65%
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah.
4%
Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit.
<1%
Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
25%
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit:
  • Sel B: Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'.)
  • Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.
  • Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.
6%
Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
(lihat di atas)
Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan.

 

C. Fungsi sel Darah putih

Granulosit dan Monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago- memakan), mereka memakan bakteria hidup yang masuk ke sistem peredaran darah. melalui mikroskop adakalanya dapat dijumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertelan oleh sebutir granulosit. pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas didalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. dengan cara ini ia dapat:
Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cidera, menangkap organisme hidup dan menghancurkannya,menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan-serpihan dan lainnya, dengan cara yang sama, dan sebagai granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan hidup, menghancurkan dan membuangnya. dengan cara ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang dan penyembuhannya dimungkinkan
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama sekali. Bila kegiatannya tidak berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah. Nanah berisi "jenazah" dari kawan dan lawan - fagosit yang terbunuh dalam kinerjanya disebut sel nanah. demikian juga terdapat banyak kuman yang mati dalam nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar jaringan yang sudah mencair. dan sel nanah tersebut akan disingkirkan oleh granulosit yang sehat yang bekerja sebagai fagosit.

D.  Kelainan pada leukosit

1.      PERGESERAN KE KIRI (Shift To The Left), Peningkatan jumlah leukosit muda dalam darah tepi. Misalnya peningkatan jumlah netrofil batang > 10 % dalam darah tepi.
2.      NETROFILIA, Peningkatan jumlah neutrofil dalam darah tepi lebih dari normal, ini bisa disebabkan  :
-          Infeksi akut contoh : radang paru, pneumonia, meningitis
-          Infeksi lokal yang disertai dengan produksi dan penimbunan nanah
-          Intoksikasi, missal pada zat-zat kimia, uremia.
-          Selain itu ada juga Netrofilia Fisiologik yang disebabkan oleh olah raga yang berlebihan, stress, ini disebut juga Pseudonetrofilia.
3.      EOSINOFILIA, Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah tepi, ditemukan pada :
-          Penyakit alergi (Urticaria, Asthma bronchiale).
-          Infeksi parasit misal pada : Schistosomiasis, Trichinosis, Cacing tambang)
-          Sesudah penyinaran
-          Hodgkin’s disease, Poli arthritis nodosa,dll
-          Keganasan, penyakit kulit misal Eksim
4.      BASOFILIA, Peningkatan jumlah basofil dalam darah, ditemukan pada :
-          Infeksi oleh virus (Smallpox, Chickenpox)
-          Kadang-kadang sesudah Spleenektomi, Anemia hemolitik kronis
5.      MONOSITOSIS, Peningkatan jumlah monosit dalam darah, ditemukan pada :
-          Infeksi Basil (TBC, Endocarditis sub akut)
-          Infeksi Protozoa (Malaria, dysentri amoeba kronik)
-          Hodgkin’s disease, Artritis Rheumatoid

6.      LIMPOSITOSIS, Peningkatan jumlah limposit dalam darah, ditemukan pada  :
-          Infeksi akut (Pertusis, hepatitis, Mononucleusis infeksiosa) dan Infeksi menahun
-          Pada infant (bayi dan anak-anak)
-          Radang kronis misal Kolitis Ulseratif
-          Kelainan metabolic (Hipertiroidisme)
7.      NEUTROPENIA, Penurunan jumlah netrofil dalam darah tepi, penyebabnya :
-          Penyakit infeksi
-          Demam thypoid, Hepatitis, Influenza, campak, malaria, juga tiap jenis infeksi akut.
-          Bahan kimia dan fisika misal pada radiasi dan obat, Hiperspleenisme, penyakit hati.
8.      LIMFOPENIA, Penurunan jumlah limposit dalam darah tepi, penyebab  :
-          Kematian kortikosteroid misalnya akibat terapi dengan obat Steroid.
-          Penyakit berat misal : Gagal jantung, gagal ginjal, TBC berat.
9.      AGRANULOSITOSIS, Menghilangnya granulosit dalam darah tepi secara mendadak pada seseorang yang sebelumnya normal. Pada agranulositosis yang umum jumlah leukosit rendah dan limposit matang merupakan satu-satunya jenis leukosit yang ada dalam darah tepi. Penyebabnya  : Penyakit autoimmune, juga obat contoh obat : Antalgin dan sulfonamide
10.  REAKSI LEUKEMOID, Leukositosis reaktif  yang bukan proses keganasan (Benigna) dengan sel-sel leukosit belum matang dan matang yang memasuki sirkulasi dalam jumlah berlebihan.








BAB III

METODELOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan Praktikum

-          Pipet thoma leukosit
-          hemositometer
-          Lanset steril
-          Kamar hitung Improved Neubauer
-          Reagen Turk (larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 mL, saring sebelum dipakai)
-          Kapas Alkohol
-          Mikroskop
-          Sampel darah

B.  Prosedur Praktikum

-          Sterilkan jari, tusukan lanset steril ke jari. Usap darah pertama, kumpulkan darah sampai kira-kira cukup untuk dijadikan sebagai sampel.
-          Darah dihisap dengan pipet thoma leukosit sampai tanda 0,5. Kelebihan darah pada ujung pipet dibersihkan.
-          Hisap reagen Turk sampai tanda 11 pada pipet (pengenceran 20 kali), lalu buat homogen dengan mengocok pipet selama 3 menit.
-          Siapkan kamar hitung, pastikan penutup kamar hitung pada posisi yang pas agar tidak bergerak. Isikan kamar hitung dengan campuran darah dan larutan Turk yang sudah homogeny melalui parit pada kamar hitung. Biarkan campuran menyebar merata. Keringkan parit dengan tisu.
-          Biarkan selama 3 menit, lalu lihat dibawah mikroskop perbesaran 40 kali.
-          Hitung jumlah leukosit pada kamar hitung leukosit.





BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil

NO.
Nama mahasiswa
Jumlah leukosit
Kadar leukosit
1.
Siti Linda
121
6050 /µl darah
2.
Dian S
156
7800 /µl darah

Perhitungan :
Vb = 4 x P x L x t
     = 4x1x1x0,1 = 0,4 µl darah
1. FP = 10 : 0,5 = 20
    Kadar leukosit =  =  6050 / µl darah
2. FP = 10 : 0,5 = 20
    Kadar leukosit =  =  7800 / µl darah

B.  Pembahasan

            Dari dua data hasil praktikum, diperoleh kadar sel darah putih (leukosit) dalam kondisi normal yaitu berada pada rentang 6000-10000 sel / µl darah. Dengan hasil demikian maka tidak ada kelainan yang terdeteksi pada percobaan yang dilakukan kali ini.




BAB V

KESIMPULAN

            Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa sel darah putih merupakan salah satu unit sel darah yang tidak boleh disepelekan perannya.sehingga pemeriksaan rutin harus dilakukan guna mendeteksi adanya kelainan yang terjadi pada sel darah darah putih.
            Kadar sel darah putih praktikan dinyatakan tidak mengalami gangguan apapun atau berada dalam kondisi normal karena kadar yang diperoleh berkisar antara 6000-10000 sel / µl darah yaitu 6050 / µl darah dan 7800 / µl darah.














DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7.  Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Syaifuddin B. Ac. 1992. Anatomi Fisiologi untuk siswa perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

















LAMPIRAN

1. Kamar hitung Improved Neubauer
2. Pipet Thoma

3. Perhitungan leukosit, area berwarna biru adalah area hitung leukosit







4. Gambaran jenis – jenis leukosit